Para Imam (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali) yang pendapat-pendapatnya menjadi madzhab besar di masyarakat telah memberikan contoh tauladan kepada murid-muridnya. Berikut adalah pesan-pesan mereka untuk mengikuti As-Sunnah dan meninggalkan Pendapat Mereka yang Bertentangan dengan As-Sunnah.
1. Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit
- Bila suatu hadits telah shahih maka itulah pendapatku.
- Tidak halal bagi seseorang pun untuk mengambil ucapan kami selama dia belum mengetahui darimana kami mengambil ucapan tersebut. Dalam riwayat lain, Haram bagi siapa saja yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa menggunakan ucapanku. Ditambahkan pada riwayat lain, Karena kami adalah manusia biasa, bisa jadi kami mengatakan demikian di hari ini kemudian kami rujuk darinya di keesokan harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Yakni Abu Yusuf), janganlah engkau menulis semua perkataan yang engkau dengar dariku. Karena bisa jadi aku berpendapat demikian pada hari ini kemudian aku meninggalkannya esok hari, dan aku berpendapat dengan pendapat lain di esok harinya, kemudian aku meninggalkannya di waktu lusa.
- Jika aku mengatakan suatu ucapan yang bertentangan dengan Kitabullah Ta’ala dan kabar dari Ar-Rasul SAW maka tinggalkan ucapan tersebut.
2. Al-Imam Malik bin Anas
- Aku hanyalah seorang manusia biasa, terkadang salah dan terkadang benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka ambilah dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah!
- Tidak ada seorang pun setelah Nabi SAW kecuali bisa diambil atau ditinggalkan ucapannya, kecuali Nabi SAW.
- Berkata Ibnu Wahb: Aku mendengar Imam Malik ditanya tentang hukum menyela-nyela jari kaki ketika wudhu, beliau menjawab, Hal itu tidak wajib bagi manusia. Ibnu Wahb melanjutkan ucapannya: Maka aku pun membiarkan beliau hingga manusia di sekeliling beliau mulai berkurang, kemudian aku berkata, Kami memiliki hadits tentang hal itu. Imam Malik bertanya, Apa itu? Aku pun menjawab, Telah menceritakan kepada kami Al-Laits bis Sa’ad, Ibnu Lahi’ah, dan Amr bin Al Harits dari Yazid bin Amr Al-Mu’afiri dari Abu Abdurrahman Al-Hubully dari Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasy, bahwa it berkata, Aku pernah melihat Rasulullah SAW menggosok antara jari-jemari kakinya dengan kelingking beliau. Lalu beliau (Imam Malik) berkata, Hadits semacam ini berdarajat hasan dan aku belum pernah mendengarnya sama sekali selain saat ini. Kemudian aku mendengar beliau setelah itu ditanya tentang hal itu maka beliau pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari jemari tersebut.
3. Al-Imam Asy-Syafi’i
- Tidak ada seorang pun melainkan pasti luput darinya suatu Sunnah Rasulullah SAW. Maka seringkali saya katakan suatu ucapan atau merumuskan suatu kaidah akan tetapi hal itu bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW, maka ucapanku yang disabdakan Rasulullah SAW itulah pendapatku.
- Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa saja yang jelas baginya Sunnah Rasulullah SAW, maka tidak halal meninggalkannya haya karena ucapan seseorang.
- Bila kalian mendapati dalam kitabku suatu hal yang menyelisihi Sunnah Rasulullah SAW, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku! (dalam riwayat lain disebutkan: Maka ikutilah ia (Sunnah Rasulullah) dan jangan sekali-kali kalian berpaling kepada ucapan orang lain!).
- Bila telah shahih suatu hadits maka itulah madzhabku.
- Engkau (Al-Imam Ahmad bin Hanbal) lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya dibanding aku, maka bila ada hadits yang shahih beritahulah aku tentang keberadaanya, di Kufah atau Bashrah atau di Syam hingga aku berpendapat dengan hadits itu bilaman hadits tersebut shahih.
- Setiap permasalahan di mana telah shahih hadits dari Rasulullah SAW menurut ulama pakar hadits namun bertentangan dengan ucapanku maka aku rujuk darinya masa hidupku atau sepeninggalku nanti.
- Jikalau kalian melihatku mengungkapkan suatu pendapat sementara telah shahih hadits dari Nabi SAW yang bertentangan dengannya ketahuilah bahwa pendepatku tidak berguna.
- Setiap apa yang aku ucapkan sementara ada hadits shahih dari Nabi SAW bertentangan dengan ucapanku maka hadits Nabi tersebut lebih layak diikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku.
- Setiap hadits yang shahih dari Nabi SAW maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal
- Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, As-Syafi’i, Al-Auza’i, atau Ats-Tsaury. Akan tetapi ambilah (agama itu) dari sumber di mana mereka mengambil. Disebutkan dalam riwayat lain, Janganlah sekali-kali engkau taklid kepada siapapun dalam perkara agama, apa saja yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya maka ambillah. Kemudian pada generasi tabi’in setelah itu, seseorang harus diseleksi terlebih dahulu (sebelum diambil ucapannya, tergantung pada kecocokannya dengan As-Sunnah). Terkadang beliau mengatakan, Ittiba’ ialah seorang itu mengikuti apa saja yang datang dari generasi sesudah tabi’in ia harus dipilah (diteliti) terlebih dahulu.
- Pendapat Al-Auza’i, begitu pula Malik, dan Abu Hanifah seluruhnya hanya pendapat dan sama nilainya di sisiku. Sedangkan hujjah itu terdapat pada atsar.
- Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah SAW maka dia berada di tepi jurang kehancuran.
Sumber: As-Syaikh Muhammad Nashiruddin, 2007, Al-Abani Shifatu Shalaati An-Nabiyyi min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraaha (Tuntunan Shalat Nabi SAW), Ash-Shaf media, Tegal-Jawa Tengah.
ass..
maaf mau tanya apakah anda tau apa pengertian dan pendapat imam malik tentang hadist shohih???